Deskripsi
ASA BAFAGIH: Diplomat & Tokoh Pers Indonesia – Kisah Hidup dan Kumpulan Tulisan adalah sebuah biografi yang menggali kembali ingatan kolektif tentang seorang pahlawan yang nyaris terlupakan. Disusun oleh Nabiel A. Karim Hayaze’, buku ini menghidupkan kembali sosok Abdillah bin Syech bin Ali Bafagih—seorang jurnalis pejuang, diplomat ulung, dan politisi jujur yang kiprahnya membentang dari masa pergerakan kemerdekaan hingga era Orde Baru.
Buku ini berawal dari sebuah kegelisahan: bagaimana mungkin seorang tokoh yang berjasa besar bagi bangsa—yang turut menyebarkan berita Proklamasi 17 Agustus 1945 melalui Kantor Berita Antara, yang menjadi saksi dan pelaku sejarah di balik layar—hampir absen dari narasi utama sejarah Indonesia? Melalui perjalanan riset yang panjang, diskusi dengan keluarga, dan penelusuran arsip-arsip yang nyaris terlupakan, sosok Asa Bafagih tampil bukan sebagai legenda besar yang gemilang, melainkan sebagai manusia yang bekerja dalam senyap, konsisten, dan penuh tanggung jawab.
Buku ini dibagi menjadi empat bagian utama: perjalanan hidup dan perjuangannya—dari masa kecil di Tanah Abang, pendidikan di Madrasah Unwanul Falah, hingga kiprahnya sebagai wartawan di era kolonial, pendudukan Jepang, dan revolusi; kumpulan tulisan-tulisannya yang menunjukkan ketajaman analisis dan keberanian moralnya, termasuk laporan reportasenya tentang Rapat Raksasa Ikada 1945 dan analisis mendalam tentang kondisi umat Islam di Tiongkok; kesaksian para sahabat dari tokoh-tokoh seperti Hamka, KH Saifuddin Zuhri, dan Alwi Shihab; serta dokumen dan foto-foto pendukung yang memperkaya pemahaman kita tentang perjalanan hidupnya.
Salah satu momen paling bersejarah yang diabadikan dalam buku ini adalah peran Asa Bafagih dalam menyebarkan naskah Proklamasi bersama Adam Malik dan rekan-rekan di Kantor Berita Antara. Ia juga menjadi tokoh sentral dalam “Peristiwa Asa Bafagih” tahun 1953, ketika ia menolak mengungkap sumber berita dan mempertahankan hak ingkar wartawan—sebuah tonggak penting dalam sejarah kebebasan pers Indonesia. Kisahnya kemudian berlanjut sebagai Duta Besar RI untuk Sri Lanka (1960-1964) dan Aljazair (1964-1968), di mana ia memainkan peran penting dalam Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok.
Asa Bafagih wafat pada 9 Desember 1978 dalam perjalanan tugas—sebuah akhir yang mencerminkan seluruh hidupnya: bekerja hingga napas terakhir. Pada tahun 1982, ia dianugerahi penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia. Namun, buku ini berpendapat bahwa pengakuan itu belum cukup untuk menebus kelalaian ingatan kita. Asa Bafagih layak dikenang sebagai pahlawan nasional, bukan karena gelar itu sendiri, melainkan sebagai penanda kejujuran sejarah.






















