Akademi Seni Rupa Surabaya Dalam Sejarah dan Dinamika

Rp 65.000,00

Akademi Seni Rupa Surabaya dalam Sejarah dan Dinamika – Buku ini mengisahkan perjalanan Aksera (1967–1972), akademi seni rupa yang melahirkan pelukis-pelukis berbakat dengan kredo “Jadilah dirimu sendiri”. Ditulis oleh para alumni dan pegiat seni, buku ini menggali semangat kebebasan berkarya, perjuangan mempertahankan institusi seni, dan warisan budaya yang tetap hidup hingga kini. Dilengkapi foto-foto langka dan catatan personal. Terbit Juni 2026, Garudhawaca. | xiv + 126 halaman.

Deskripsi

“Aksera adalah sebuah mitos dalam khasanah seni rupa di Surabaya, bahkan bisa jadi di Indonesia.” — Henri Nurcahyo

Buku ini menghadirkan catatan sejarah yang menyentuh tentang Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera), sebuah institusi seni rupa yang berdiri pada tahun 1967 dan hanya bertahan hingga 1972, namun meninggalkan jejak yang mendalam dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia. Ditulis oleh para alumni, dosen, dan pegiat seni yang terlibat langsung, buku ini merajut kenangan, perjuangan, dan dinamika yang melingkupi Aksera—dari kelahirannya di tengah pergolakan politik pasca-G30S, hingga upaya revitalisasi yang tak pernah usai.

Dengan pengantar dari Hotman M. Siahaan, buku ini mengisahkan bagaimana Aksera menjadi “oasis kreatif” di tengah kota Surabaya, melahirkan pelukis-pelukis berbakat seperti Nuzurlis Koto, Makhfoed, Dwijo Sukatmo, Nunung WS, dan Serudi Sera. Sistem pendidikan yang egaliter dan liberal—lebih mirip sanggar daripada akademi—menanamkan kredo “Jadilah dirimu sendiri” yang membentuk karakter personal setiap seniman. Buku ini juga mengupas peran penting para pendiri seperti Krishna Mustajab, Gatut Kusumo, Amang Rahman, dan M. Daryono, serta lika-liku perjuangan mempertahankan eksistensi Aksera di tengah keterbatasan dana, fasilitas, dan dukungan pemerintah.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini adalah refleksi tentang semangat kebebasan berkarya, idealisme pendidikan seni, dan perjuangan mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman. Dengan gaya naratif yang personal dan dokumentatif, buku ini menjadi saksi bisu bahwa meskipun Aksera telah tiada, rohnya tetap hidup dalam karya dan semangat para alumninya.


Keunggulan Buku

  • Catatan Sejarah Langsung: Ditulis oleh para pelaku dan saksi sejarah Aksera, memberikan perspektif otentik dan mendalam.

  • Narasi Personal dan Dokumentatif: Menggabungkan kenangan pribadi, data arsip, dan foto-foto langka.

  • Mengangkat Tokoh Penting: Menyoroti peran para pendiri dan dosen Aksera yang berpengaruh dalam seni rupa Indonesia.

  • Relevan dengan Pendidikan Seni: Memberikan inspirasi tentang model pendidikan seni yang egaliter dan berbasis sanggar.

  • Kekayaan Visual: Dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi kegiatan, pameran, dan karya mahasiswa Aksera.


Target Pembaca

  • Mahasiswa dan Dosen Seni Rupa & Sejarah Seni

  • Pegiat dan Pemerhati Seni Budaya

  • Sejarawan dan Peneliti Budaya

  • Alumni dan Keluarga Besar Aksera

  • Masyarakat umum yang tertarik pada sejarah seni rupa Indonesia

Informasi Tambahan

Penulis

Hamid Nabhan

QRCBN

62-357-4517-654

Dimensi

12,5 x 18cm ; 70 hlm

Tahun Terbit

Juni 2026