Deskripsi
Prajurit-Prajurit di Kiri Jalan mengupas tuntas sejarah kelam dan kontroversial tentang prajurit-prajurit Indonesia yang memilih berada di sisi “kiri”—baik sebagai pemberontak, pembangkang, maupun mereka yang hanya ingin menyuarakan keadilan di tengah kekuasaan yang dominan.
Buku ini tidak sekadar menceritakan pemberontakan, melainkan mengajak pembaca untuk memahami mengapa seorang prajurit berani mempertaruhkan nyawanya melawan negara dan pimpinannya. Dengan gaya bertutur yang lugas dan kaya data, Petrik Matanasi—pemerhati sejarah militer Indonesia—menghadirkan narasi yang selama ini tersembunyi di balik narasi resmi Orde Baru.
Dimulai dari era kolonial, buku ini mengisahkan pembangkangan para serdadu KNIL asal Minahasa yang berani memberontak melawan pemerintah Hindia Belanda, hingga kisah pemberontakan kapal perang Zeven Provincien yang mengguncang pemerintahan kolonial pada 1933. Dilanjutkan dengan dinamika tentara kiri di masa revolusi, terbentuknya Divisi Panembahan Senopati yang diduga merah, hingga ambisi Amir Syarifuddin membentuk “tentara komunis” melalui Pepolit dan Perwira Politik.
Memasuki era kemerdekaan, buku ini mengupas pemberontakan-pemberontakan besar seperti Peristiwa Madiun 1948, PRRI/Permesta, hingga Gerakan 30 September 1965 yang dipimpin Letkol Untung. Petrik tidak sekadar menyajikan fakta, tetapi juga menggali motif di balik setiap gerakan: ketidakpuasan terhadap kesejahteraan prajurit, kecemburuan sosial terhadap para jenderal yang hidup mewah di Menteng, serta pergulatan ideologi antara tentara profesional dan tentara rakyat.
Salah satu keunggulan buku ini adalah pengakuannya bahwa tidak semua pemberontak adalah komunis, dan tidak semua yang kiri adalah merah. Banyak gerakan pembangkangan lahir dari rasa sakit hati, ketidakadilan, dan harapan akan perubahan—bukan sekadar ideologi. Buku ini juga mengupas bagaimana beberapa pemberontak justru mendapat kehidupan yang lebih baik setelah pemberontakannya gagal, sementara yang lain dijadikan kambing hitam sejarah, seperti nasib tragis Letkol Untung yang dicap sebagai “iblis” versi Orde Baru.
Dengan 160 halaman yang padat, buku ini menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika politik-militer Indonesia secara lebih utuh—bukan hanya dari sudut pandang pemenang, tetapi juga dari mereka yang kalah dalam pertarungan sejarah.






















