Deskripsi
Hikayat Kapitein Arab di Nusantara: Jejak Dakwah dan Nasionalisme adalah buku sejarah yang mengangkat kiprah para Kapitein Arab, tokoh Arab-Hadhrami, ulama, saudagar, pendidik, pejuang, dan intelektual keturunan Arab dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Selama ini, sejarah komunitas Arab di Nusantara kerap dibaca melalui sudut pandang kolonial atau terbatas pada wacana peran pedagang Hadhrami semata. Buku ini menawarkan sudut pandang yang lebih luas: bahwa kehadiran orang Arab dan keturunannya di Nusantara tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga dengan dakwah Islam, pendidikan, perlawanan terhadap kolonialisme, pembentukan jaringan sosial, filantropi, perkembangan pers, sastra, seni, dan nasionalisme Indonesia.
Buku ini menelusuri posisi Kapitein Arab atau Kepala Golongan Arab pada masa Hindia Belanda. Jabatan ini sering dipahami secara sederhana sebagai perpanjangan tangan pemerintah kolonial. Namun, buku ini menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Sejumlah Kapitein Arab justru menggunakan posisi sosialnya untuk membela komunitasnya, mendukung dakwah, memperkuat pendidikan Islam, membantu perjuangan rakyat, dan dalam beberapa kasus mengambil posisi yang tidak tunduk begitu saja kepada kepentingan kolonial.
Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan kisah berbagai tokoh penting, antara lain Syekh Said bin Salim Na’um, Kapitein Arab pertama di Batavia; Syekh Umar Yusuf Manggusy, Kapitein Arab Batavia yang dikenal sebagai raja lelang; Syekh Abdullah Al-Misri, pengarang sastra Melayu lama; Sayyid Utsman bin Yahya, Mufti Besar Batavia; Habib Ali bin Ahmad Shahab atau Ali Menteng; Salim bin Abdullah Sumair, pengarang Safinatun Najah; Raden Saleh Syarif Boestaman, pionir modernisme seni lukis Indonesia; Habib Salim bin Jindan; Habib Ali Kwitang; Syekh Ahmad Surkati, tokoh pembaharu Islam dan pendiri Al-Irsyad; Syekh Salim bin Sa’ad Nabhan, tokoh penerbitan kitab Islam; hingga para Kapitein Arab dari Bogor, Solo, Tegal, Pekalongan, Surabaya, Pasuruan, Lombok Timur, Banda, dan Ternate.
Buku ini juga memperlihatkan bahwa sejarah Arab-Hadhrami di Indonesia bukanlah sejarah yang tunggal. Di dalamnya terdapat keberagaman asal-usul, peran, kelas sosial, jaringan keluarga, pilihan politik, dan orientasi dakwah. Selain tokoh Hadhrami, buku ini juga memuat tokoh Arab dari luar Hadhramaut, seperti Ahmad Surkati dari Sudan, Abdul Aziz Ar-Rashid dari Kuwait, Muhammad Al-Hasyimi dari Tunisia, serta Abdullah dan Abdurrahman Al-Misri dari Mesir.
Salah satu nilai penting buku ini adalah usahanya menempatkan sejarah keturunan Arab sebagai bagian dari sejarah Indonesia. Komunitas Arab tidak diletakkan sebagai kelompok asing yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari jaringan sosial, budaya, agama, ekonomi, dan politik Nusantara. Melalui dakwah, perdagangan, pendidikan, penerbitan kitab, perjuangan Aceh, Sarekat Islam, Al-Irsyad, Jamiatul Khair, hingga nasionalisme Indonesia, para tokoh dalam buku ini menunjukkan jejak kontribusi yang luas dan sering kali terlupakan.
Hikayat Kapitein Arab di Nusantara cocok untuk pembaca yang tertarik pada sejarah Islam Nusantara, sejarah keturunan Arab di Indonesia, sejarah Hadhrami, kolonialisme Hindia Belanda, dakwah Islam, nasionalisme, biografi tokoh, sejarah kota-kota pesisir, studi diaspora, serta hubungan antara agama, perdagangan, dan politik di Indonesia.
Buku ini penting dimiliki oleh mahasiswa sejarah, dosen, peneliti, santri, guru, pemerhati Islam Nusantara, komunitas keturunan Arab, pegiat sejarah lokal, kolektor buku sejarah, serta pembaca umum yang ingin memahami sisi lain sejarah Indonesia melalui kisah para Kapitein Arab dan tokoh Arab-Hadhrami di Nusantara.





















