Deskripsi
Daya Tari : Jejak, Mimpi dan Daya Hidup Koreografer Muda adalah sebuah buku yang lahir dari kegelisahan akan ruang bagi para koreografer muda di Yogyakarta. Diterbitkan oleh Paradance—sebuah festival mini seni gerak dan tari yang didirikan oleh Nia Agustina dan Ahmad Jalidu—buku ini menghadirkan 18 catatan perjalanan dari para koreografer muda yang telah dan masih konsisten berkarya di Yogyakarta serta sekitarnya.
Buku setebal 262 halaman ini bukan sekadar kumpulan biografi atau daftar prestasi. Lebih dari itu, ia adalah sebuah prolog untuk dialog—sebuah ruang refleksi di luar panggung, di mana para koreografer muda menuliskan tentang titik-titik di mana mereka merasakan bahwa jalan mereka adalah tari, dan lebih jauh lagi, tari kontemporer.
Dari Ahmad Susantri yang memulai perjalanan tarinya dari rutinitas menyiram bunga hingga menemukan identitas gerak “girly” yang khas, Ari Ersandi yang menjelajahi tubuh tari melalui dialog lintas disiplin seni, Ayu Permata Sari yang mengangkat isu kekerasan seksual dalam karya Kami Bu-Ta, hingga Bagus Bang Sada yang menyelami kembali akar budaya Bali melalui kacamata kontemporer—setiap tulisan adalah jendela menuju proses kreatif yang jujur dan personal.
Ada Citra Pratiwi yang menulis tentang perjalanan ketubuhannya dari Istana Anak-Anak TMII hingga panggung internasional, Eka Wahyuni yang menghargai proses dengan pendekatan riset dan kolaborasi, Ferry C Nugroho yang belajar dalam karya dan manajemen, serta Galih Puspita K yang meyakini bahwa “dalam setiap karya, saya sedang berdoa.”
Buku ini juga menghadirkan tulisan-tulisan dari Kiki Rahmatika tentang metode dekonstruksi-transformasi, Kinanti Sekar Rahina dengan kisah kupu-kupu dan upacara Mitoni, Megatruh Banyu Mili tentang ketakutan dan keberanian berkarya, Mila Rosinta tentang perjalanan dan cita-cita besar mendirikan sekolah tari, hingga Otniel Tasman yang mengangkat isu gender melalui karya NoSheHeOrIt.
Tak kalah menarik adalah tulisan Putri Raharjo tentang komunitas tari inklusi Nalitari, Raka Reynaldi yang merancang simulasi teori dan teknologi dalam seni, Scholastica W Pribadi tentang menari untuk menghidupi, dan Wisnu Aji tentang perjalanan bersama Chakil Squad.
Dua tulisan penutup dari Dina Triastuti dan M. Dinu Imansyah memberikan perspektif dari luar—sebuah refleksi tentang perkembangan tari kontemporer di Yogyakarta dan peran Paradance sebagai ruang bagi para koreografer muda.
Daya Tari adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika, pergulatan, dan semangat para koreografer muda Indonesia—terutama di Yogyakarta—dalam menjalani hidup melalui tari. Buku ini adalah bukti bahwa tari bukan hanya gerakan, tetapi juga cara berpikir, cara merasakan, dan cara menghidupi kehidupan.






















