Deskripsi
Ontran-Ontran Pucanganom adalah novel berbahasa Jawa karya Ki Bambang Saparyono yang membawa pembaca memasuki kehidupan masyarakat sebuah kademangan di wilayah Pegunungan Sewu pada masa setelah berakhirnya Perang Jawa.
Baswara adalah seorang pemuda pengembara yang menyimpan masa lalu. Ia pernah menjadi prajurit Pangeran Dipanegara dan hidup berpindah-pindah setelah perang berakhir. Sebuah sayembara di alun-alun Pucanganom mempertemukannya dengan Demang Wanabaya. Keterampilannya menunggang kuda, menggunakan senjata, dan olah kanuragan membuat sang demang tertarik sekaligus curiga. Baswara akhirnya diterima sebagai jaga baya Kademangan Pucanganom—awalnya justru agar gerak-geriknya mudah diawasi.
Kehadiran Baswara perlahan mengubah banyak hal. Sawitri, putri Demang Wanabaya yang berani dan gemar berlatih kanuragan, mulai menaruh hati kepadanya. Sebaliknya, Wiratmaka, menantu Demang Wanabaya, melihat Baswara sebagai ancaman. Rasa tidak suka itu berkembang menjadi persaingan, kecurigaan, dan perebutan pengaruh di lingkungan kademangan.
Cinta Baswara dan Sawitri pun tidak berjalan sederhana. Perbedaan kedudukan, rencana perjodohan, janji antarkeluarga, dan kepentingan atas pewarisan jabatan demang membuat hubungan keduanya terseret ke tengah pusaran persoalan yang jauh lebih besar. Sawitri bahkan harus memperjuangkan sendiri pilihan hidupnya ketika Baswara merasa dirinya terlalu rendah untuk mempersunting putri seorang demang.
Dari sana, ontran-ontran—keributan dan pergolakan—terus membesar. Persoalan asmara bersinggungan dengan ambisi kekuasaan, konflik keluarga, perebutan jabatan, kejahatan, pengkhianatan, hingga campur tangan orang-orang yang mengatasnamakan kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta. Bahkan ketika kehidupan Baswara dan Sawitri mulai menemukan jalan, ketenteraman Pucanganom kembali diguncang oleh perebutan kedudukan demang. Dalam buku sendiri, istilah ontran-ontran diterangkan sebagai “ribut”.
Dengan 51 bab, novel ini memadukan romansa, petualangan, kanuragan, intrik keluarga, persoalan kepemimpinan, serta gambaran kehidupan masyarakat Jawa dalam sebuah cerita panjang yang dinamis. Dialog dan narasinya menggunakan Bahasa Jawa, sementara berbagai istilah yang mungkin tidak langsung dipahami pembaca dilengkapi kosa tembung (kosa kata) beserta arti bahasa Indonesianya.
Lebih dari sekadar kisah asmara Baswara dan Sawitri, Ontran-Ontran Pucanganom berbicara tentang kesetiaan, ambisi, harga diri, tanggung jawab seorang pemimpin, hubungan kawula dengan penguasa, serta pertarungan antara kepentingan pribadi dan ketenteraman masyarakat.
Sebuah bacaan menarik bagi pecinta novel Basa Jawa, sastra Jawa, cerita berlatar budaya Jawa, kisah kanuragan, romansa Jawa, serta pembaca yang ingin menikmati bahasa Jawa melalui cerita yang panjang dan hidup.





















