Mekaring Kembang Tresna

Rp 75.000,00

Mekaring Kembang Tresna adalah novel berbahasa Jawa karya Ki Bambang Saparyono dan merupakan bagian kedua dari Dwilogi Tresna, setelah Ati Dudu Watu.

Novel ini mengisahkan Raditya, keluarga besar Surya Kusuma, Eyang Nindya, Miranti, dan Mentari dalam cerita tentang cinta, keluarga, sarasilah, tanggung jawab, unggah-ungguh, pendewasaan diri, dan nilai-nilai kehidupan Jawa.

Dilengkapi glosarium, buku ini cocok untuk pecinta novel Jawa, pembaca sastra Jawa modern, guru bahasa Jawa, siswa, mahasiswa, komunitas literasi, serta pembaca yang ingin menikmati cerita cinta dan keluarga dalam bahasa Jawa.

Deskripsi

Mekaring Kembang Tresna adalah novel berbahasa Jawa karya Ki Bambang Saparyono yang menghadirkan kisah tentang cinta, keluarga, tanggung jawab, sarasilah, dan perjalanan manusia dalam memahami makna hidup.

Novel ini merupakan bagian kedua dari Dwilogi Tresna, melanjutkan semesta cerita dari buku sebelumnya, Ati Dudu Watu. Dengan bahasa Jawa yang hidup, halus, dan penuh nuansa unggah-ungguh, Mekaring Kembang Tresna tidak hanya menawarkan cerita asmara, tetapi juga mengajak pembaca menyelami nilai-nilai keluarga, tata krama, kejujuran rasa, dan pergulatan batin antargenerasi.

Kisah ini berpusat pada keluarga besar Surya Kusuma, terutama sosok Eyang Nindya atau KRT. Nindya Surya Kusuma, seorang sesepuh keluarga yang menyimpan harapan besar agar trah Surya Kusuma dapat kembali menemukan jalan hidup yang bermartabat. Di tengah usia yang semakin sepuh, Eyang Nindya masih memikirkan masa depan keluarga, terutama siapa yang kelak mampu meneruskan tanggung jawab, menjaga nama baik, dan mengelola warisan nilai keluarga.

Di sisi lain, hadir Raditya, cucu Eyang Nindya yang tumbuh bersama Mbah Kramadirya di Cangkringan. Meski berasal dari keluarga besar yang memiliki latar ningrat, Raditya tumbuh dalam kehidupan yang lebih sederhana. Ketika diterima kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, hidup Raditya mulai memasuki babak baru: dunia kampus, persahabatan, tanggung jawab keluarga, dan pertemuan dengan orang-orang yang memengaruhi arah hidupnya.

Salah satu titik penting dalam cerita adalah pertemuan Raditya dengan Miranti, mahasiswi baru dari Karangmojo, Gunungkidul. Dari perkenalan sederhana di kantin kampus, hubungan keduanya perlahan berkembang menjadi kedekatan yang penuh harapan, kegelisahan, dan ujian. Namun cinta dalam novel ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan restu keluarga, perbedaan latar, kesiapan diri, serta kemampuan manusia untuk memahami pilihan hidupnya secara dewasa.

Selain Miranti, tokoh Mentari juga menjadi bagian penting dalam perkembangan batin Raditya. Mentari hadir dengan sifat ceria, hangat, dan dekat dengan keluarga besar Surya Kusuma. Hubungan Raditya, Miranti, dan Mentari membentuk dinamika cerita yang menarik: cinta yang tumbuh, cinta yang diuji, cinta yang layu, dan cinta yang kembali menemukan jalan untuk mekar.

Keunggulan novel ini terletak pada kemampuannya memadukan kisah asmara dengan nilai-nilai Jawa. Pembaca akan menemukan pembahasan tentang unggah-ungguh basa, sikap hormat kepada orang tua, laku prihatin, tanggung jawab terhadap keluarga, makna sarasilah, pentingnya pilihan hidup, serta nilai bahwa keluhuran manusia tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan, tetapi oleh watak, budi, usaha, doa, dan tindak tanduknya.

Sebagai novel berbahasa Jawa, Mekaring Kembang Tresna juga menjadi bagian dari upaya melestarikan bahasa Jawa dalam bacaan modern. Bahasa yang digunakan memperlihatkan keragaman situasi tutur: dari percakapan sehari-hari, bahasa keluarga, bahasa hormat kepada sesepuh, hingga ungkapan batin tokoh yang lembut dan reflektif. Kehadiran glosarium di bagian akhir membuat buku ini lebih ramah bagi pembaca yang sedang belajar atau ingin memperkaya penguasaan bahasa Jawa.

Mekaring Kembang Tresna cocok untuk pembaca yang menyukai novel Jawa, sastra Jawa modern, cerita keluarga, roman berbahasa Jawa, kisah cinta yang santun, dan bacaan bernuansa budaya Jawa. Buku ini juga menarik untuk guru bahasa Jawa, siswa, mahasiswa, pemerhati sastra daerah, komunitas literasi Jawa, serta siapa saja yang ingin menikmati cerita berbahasa Jawa yang dekat dengan kehidupan, tetapi tetap sarat piwulang.

Pada akhirnya, novel ini mengingatkan bahwa cinta tidak selalu tumbuh dengan mudah. Ada cinta yang harus diuji oleh jarak, restu, tanggung jawab, dan waktu. Namun ketika hati sudah menemukan tanah yang tepat, kembang tresna akan mekar dengan caranya sendiri.

Informasi Tambahan

Penulis

Ki Bambang Saparyono

Dimensi

13 x 19cm ; viii + 180 hl

ISBN

978-623-422-084-1 [Cetak]
978-623-422-085-8 [Elektronis]

Tahun Terbit

Desember, 2023