Cara Mengubah Skripsi atau Tesis Menjadi Buku yang Layak Dibaca

Skripsi dan tesis menyimpan banyak pengetahuan berharga. Sayangnya, sebagian besar karya tersebut berhenti sebagai dokumen akademik yang hanya dibaca oleh mahasiswa, dosen pembimbing, penguji, atau orang-orang yang sedang mencari rujukan penelitian.

Padahal, hasil penelitian dapat menjangkau pembaca yang lebih luas apabila diolah menjadi buku. Penelitian pendidikan dapat membantu guru menemukan metode pembelajaran baru. Kajian sejarah dapat memperkaya pemahaman masyarakat. Penelitian kebudayaan dapat menjadi dokumentasi penting, sedangkan kajian sosial dapat membuka percakapan tentang persoalan yang sedang terjadi.

Namun, mengubah skripsi atau tesis menjadi buku bukan sekadar menghapus halaman pengesahan, mengganti ukuran kertas, lalu memasang sampul. Skripsi dan buku ditulis untuk tujuan yang berbeda. Karena itu, naskahnya juga perlu disusun dengan cara yang berbeda.

Skripsi Ditulis untuk Diuji, Buku Ditulis untuk Dibaca

Skripsi dan tesis disusun untuk membuktikan bahwa seorang mahasiswa mampu melakukan penelitian sesuai kaidah akademik. Penulisannya harus mengikuti pedoman perguruan tinggi serta memenuhi kebutuhan dosen pembimbing dan penguji.

Buku berhadapan dengan pembaca yang tidak selalu memiliki latar akademik yang sama dengan penulis. Mereka tidak harus mengetahui seluruh prosedur penelitian. Mereka lebih membutuhkan gagasan, temuan, atau penjelasan yang relevan dan mudah diikuti.

Perbedaan tujuan tersebut memengaruhi struktur dan bahasa. Skripsi umumnya disusun dalam urutan pendahuluan, rumusan masalah, kajian pustaka, metode, hasil penelitian, dan kesimpulan. Struktur ini penting untuk kepentingan akademik, tetapi sering terasa kaku apabila dipindahkan begitu saja ke dalam buku.

Bahasa skripsi juga cenderung formal dan dipenuhi ungkapan administratif. Kalimat seperti “Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat diketahui bahwa…” sebenarnya dapat dipadatkan menjadi “Hasil penelitian menunjukkan bahwa….” Isinya tetap sama, tetapi lebih mudah dipahami.

Bisakah Skripsi atau Tesis Mendapatkan ISBN?

Perpustakaan Nasional menyatakan bahwa hasil penelitian dapat diberikan ISBN setelah diubah menjadi monograf yang diterbitkan untuk masyarakat luas. Dengan kata lain, skripsi atau tesis perlu diolah menjadi buku yang dapat dibaca di luar kepentingan ujian akademik.

Perubahan itu mencakup sasaran pembaca, struktur, bahasa, judul, dan cara menyampaikan hasil penelitian. Naskah harus hadir sebagai buku yang utuh, bukan sekadar laporan penelitian yang dicetak dalam ukuran lebih kecil.

ISBN sendiri merupakan nomor identifikasi untuk suatu judul, edisi, dan format buku. Apabila buku cetak, EPUB, dan PDF diterbitkan sebagai produk yang berbeda, setiap format memerlukan ISBN tersendiri. ISBN bukan penilaian terhadap mutu isi dan bukan pula bukti kepemilikan hak cipta.

Informasi terbaru mengenai ketentuan ISBN dapat diperiksa melalui situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Tentukan Siapa yang Akan Membaca Buku Anda

Sebelum mulai menyunting, tentukan siapa yang diharapkan membaca buku tersebut. Inilah keputusan yang akan memengaruhi seluruh proses berikutnya.

Tesis tentang metode pembelajaran, misalnya, dapat diarahkan kepada dosen dan peneliti. Namun, penelitian yang sama juga dapat diolah menjadi panduan praktis bagi guru. Kedua pilihan tersebut akan menghasilkan buku yang berbeda, baik dalam penggunaan istilah, contoh, kedalaman pembahasan, maupun gaya bahasa.

Cobalah merumuskan manfaat buku dalam satu kalimat. Siapa yang menghadapi persoalan yang dibahas dalam penelitian? Pengetahuan apa yang mereka butuhkan? Temuan mana yang paling berguna bagi mereka?

Jika pembaca dan manfaat buku sudah jelas, Anda akan lebih mudah menentukan bagian yang perlu dipertahankan, dikembangkan, diringkas, atau dihapus.

Ubah Judul dan Susun Kembali Daftar Isi

Judul skripsi biasanya panjang karena harus menunjukkan objek, variabel, lokasi, dan batas penelitian. Judul seperti itu belum tentu efektif sebagai judul buku.

Sebagai contoh, judul penelitian:

Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa Kelas V di Sekolah Dasar X

Dapat dikembangkan menjadi:

Belajar Melalui Proyek: Strategi Membangun Literasi di Sekolah Dasar

Judul buku menempatkan gagasan dan manfaat bagi pembaca di bagian depan. Lokasi penelitian tetap dapat dijelaskan dalam isi, tetapi tidak harus dicantumkan dalam judul utama.

Daftar isi juga perlu disusun kembali. Pembagian “Bab I Pendahuluan”, “Bab II Kajian Pustaka”, dan seterusnya tidak harus dipertahankan. Buku dapat disusun berdasarkan persoalan, tema, periode, tokoh, wilayah, atau tahapan pembahasan.

Penelitian sejarah dapat disajikan secara kronologis. Penelitian kebudayaan dapat dibagi berdasarkan praktik, simbol, pelaku, dan perubahan sosial. Sementara itu, buku pendidikan dapat dimulai dari persoalan yang dihadapi guru, kemudian bergerak menuju konsep dan strategi penerapan.

Susunan bab sebaiknya mengikuti kebutuhan pembaca, bukan lagi mengikuti kebutuhan ujian.

Tulis Ulang Bagian Pembuka

Pendahuluan skripsi biasanya berisi latar belakang yang panjang, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian. Semua unsur tersebut tidak perlu dipertahankan sebagai bagian yang terpisah dalam buku.

Buku dapat dibuka dengan peristiwa, pengalaman lapangan, pertanyaan, kasus nyata, atau persoalan yang belum terselesaikan. Setelah perhatian pembaca terbentuk, barulah penulis menjelaskan mengapa persoalan tersebut penting dan apa yang akan dibahas.

Rumusan masalah dapat dilebur ke dalam uraian. Tujuan dan manfaat penelitian juga bisa disampaikan secara alami tanpa harus menggunakan kalimat “penelitian ini bertujuan untuk….”

Bagian pembuka sebuah buku seharusnya membuat orang ingin melanjutkan membaca, bukan merasa sedang memasuki ruang ujian.

Padatkan Teori dan Metode Penelitian

Kajian pustaka sering menjadi salah satu bagian terpanjang dalam skripsi atau tesis. Penulis harus menjelaskan penelitian terdahulu, berbagai definisi, perbedaan teori, serta posisi penelitiannya.

Dalam buku, teori tetap dibutuhkan. Namun, cukup pertahankan teori yang benar-benar membantu pembaca memahami persoalan. Hindari paragraf yang hanya berisi barisan “menurut A”, “menurut B”, dan “menurut C”. Berbagai sumber tersebut sebaiknya diolah menjadi uraian yang memperlihatkan pemahaman penulis sendiri.

Kajian teori tidak harus ditempatkan seluruhnya di awal. Teori dapat dimasukkan ke dalam bab yang membutuhkannya. Dengan begitu, pembaca memperoleh penjelasan pada saat yang tepat.

Hal serupa berlaku untuk metode penelitian. Pembaca perlu mengetahui dari mana data berasal dan bagaimana penelitian dilakukan, tetapi tidak selalu membutuhkan seluruh uraian tentang definisi operasional, kisi-kisi instrumen, atau rumus pengujian.

Untuk buku yang ditujukan kepada pembaca umum, metode dapat dijelaskan secara singkat dalam pengantar atau catatan penulis. Dalam monograf akademik, metode tetap dapat menjadi satu bagian tersendiri, tetapi penyajiannya perlu dipadatkan.

Jadikan Temuan sebagai Inti Buku

Nilai utama skripsi atau tesis terletak pada temuan dan cara penulis menafsirkannya. Sayangnya, bagian ini kadang justru tenggelam di antara uraian teori dan tabel yang terlalu banyak.

Dalam buku, temuan seharusnya menjadi pusat pembahasan. Jangan berhenti pada penyajian data. Jelaskan mengapa temuan tersebut penting, apa yang berubah dari pemahaman sebelumnya, siapa yang dapat memanfaatkannya, dan apa yang bisa dilakukan setelah mengetahuinya.

Tabel yang rumit dapat disederhanakan. Data yang tidak mendukung gagasan utama tidak perlu dipertahankan. Hasil wawancara dapat diolah menjadi uraian yang lebih hidup, sepanjang identitas narasumber dan etika penelitian tetap dijaga.

Di sinilah laporan penelitian mulai berubah menjadi buku: data tidak hanya disajikan, tetapi diberi makna.

Perbarui Data dan Perhalus Bahasanya

Ada kemungkinan beberapa tahun telah berlalu sejak penelitian selesai. Karena itu, periksa kembali data statistik, peraturan, nama lembaga, kondisi lapangan, dan penelitian pendukung.

Tambahkan perkembangan terbaru apabila diperlukan. Namun, jangan mengubah hasil penelitian lama seolah-olah penelitian tersebut baru dilakukan. Tahun dan konteks pengumpulan data tetap harus dijelaskan secara terbuka.

Setelah isinya diperbarui, periksa kembali bahasanya. Kurangi kalimat pasif, pecah kalimat yang terlalu panjang, dan hilangkan pengulangan definisi. Istilah teknis tetap dapat digunakan, tetapi perlu dijelaskan ketika pertama kali muncul.

Bahasa buku tidak harus santai. Yang terpenting, kalimatnya jelas, mengalir, dan tidak membuat pembaca bekerja terlalu keras untuk memahami maksud penulis.

Perhatikan Hak Cipta dan Etika Kepengarangan

Skripsi atau tesis telah mendapat perlindungan hak cipta sejak diwujudkan dalam bentuk nyata, meskipun belum dicatatkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Pencatatan hak cipta dapat membantu menyediakan bukti apabila kelak terjadi sengketa.

Sebelum menerbitkan buku, pastikan tidak ada foto, peta, ilustrasi, tabel, instrumen, atau materi milik pihak lain yang digunakan tanpa izin. Persetujuan narasumber juga perlu diperhatikan, khususnya apabila buku memuat informasi pribadi atau sensitif.

Jika penelitian telah tersedia dalam repositori perguruan tinggi, sebaiknya jelaskan bahwa buku tersebut dikembangkan dari penelitian sebelumnya. Periksa pula kebijakan kampus atau ketentuan pemberi dana apabila penelitian melibatkan lembaga lain.

Bagaimana dengan nama dosen pembimbing? Status sebagai pembimbing tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai penulis buku. Kepengarangan harus didasarkan pada kontribusi nyata terhadap pengembangan gagasan dan penulisan naskah. Jika dosen pembimbing tidak terlibat sebagai penulis, kontribusinya dapat disebutkan dalam ucapan terima kasih.

Tidak Semua Skripsi Harus Menjadi Buku

Sebagian penelitian memang lebih tepat diolah menjadi artikel jurnal, artikel populer, modul, buku panduan singkat, atau salah satu bab dalam buku bersama.

Sebuah penelitian berpotensi dikembangkan menjadi buku apabila persoalannya masih relevan, temuannya berguna, sudut pandangnya cukup khas, dan materinya dapat dikembangkan untuk kelompok pembaca tertentu.

Jika ruang lingkup penelitian terlalu sempit, penulis dapat memperluasnya melalui pembaruan data, wawancara tambahan, studi lanjutan, atau pembahasan kasus lain yang relevan. Jadi, yang perlu dipertimbangkan bukan hanya apakah naskah bisa dicetak menjadi buku, melainkan apakah isinya cukup berguna untuk dibaca sebagai buku.

Periksa Naskah Sebelum Dikirim

Sebelum mengirimkan naskah kepada penerbit, pastikan bahwa:

  • pembaca utama dan manfaat buku sudah jelas;
  • judul tidak lagi menyerupai judul skripsi;
  • daftar isi telah disusun ulang;
  • halaman pengesahan dan dokumen administratif sudah dihapus;
  • teori dan metode telah dipadatkan;
  • temuan menjadi pusat pembahasan;
  • data dan referensi telah diperbarui;
  • hak penggunaan materi pihak lain sudah diperiksa;
  • bahasa telah disunting agar lebih mengalir;
  • hubungan buku dengan penelitian sebelumnya dijelaskan jika diperlukan.

Daftar ini membantu memastikan bahwa naskah memang telah berubah menjadi buku, bukan hanya berganti bentuk.

Dari Penelitian Menjadi Pengetahuan yang Hidup

Penelitian memberikan fondasi berupa data, teori, dan temuan. Tugas penulis berikutnya adalah membangun kembali fondasi tersebut menjadi uraian yang relevan, mengalir, dan bermanfaat.

Prosesnya memang membutuhkan waktu. Namun, hasil akhirnya memungkinkan pengetahuan yang semula hanya tersimpan dalam dokumen akademik menjangkau lebih banyak orang.

Jika Anda memiliki skripsi, tesis, hasil penelitian, atau naskah akademik yang ingin dikembangkan menjadi buku, silakan mempelajari cara menerbitkan buku bersama Penerbit Garudhawaca. Naskah yang dipersiapkan dengan baik akan lebih mudah memasuki tahap penyuntingan, desain, penerbitan, dan distribusi dalam bentuk cetak maupun digital.

penerbit garudhawaca

Penerbit Buku Online dan percetakan

Mungkin Anda juga menyukai