Deskripsi
Mak, Ana Asu Mlebu Ngomah! adalah kumpulan tiga naskah lakon berbahasa Jawa karya Andy Sri Wahyudi yang membawa kehidupan kampung Yogyakarta ke atas panggung dengan cara yang lugas, riuh, jenaka, absurd, sekaligus getir. Melalui bahasa Jawa sehari-hari—terutama ngoko, lengkap dengan slang, umpatan, campuran bahasa Indonesia, dan ekspresi khas masyarakat kampung—Andy menangkap kehidupan orang-orang kecil tanpa berusaha menghaluskannya.
Dalam Lelakon (Urip Dilakoni kanthi Waras lan Trengginas!), pembaca diajak memasuki kehidupan masyarakat pinggiran kota yang dihimpit perubahan zaman. Modal, uang, kemiskinan, cinta, agama, relasi keluarga, dan berbagai siasat untuk bertahan hidup berkelindan dalam kisah tokoh-tokoh seperti Nanang Edan, Lik Kawit, Cahyadi, Lestari, Samsinah, Cempluk, dan lainnya. Di tengah dunia yang terasa semakin “edan”, lakon ini menyimpan seruan sederhana tetapi kuat: hidup tetap harus dijalani dengan waras lan trengginas.
Lakon Mak, Ana Asu Mlebu Ngomah! menghadirkan konflik yang lebih tajam ketika kehidupan sebuah kampung berhadapan dengan kekuatan pembangunan. Sosok-sosok “anjing” menjadi metafora bagi pengembang yang mengambil alih rumah dan tanah warga. Perlawanan enam orang yang bertahan pada akhirnya memang mengalami kekalahan, tetapi mereka membawa pergi sesuatu yang tak dapat dirampas: ingatan, harga diri, dan semangat hidup yang dilambangkan oleh batu nisan tokoh pelindung kampung mereka.
Sementara itu, Ora Isa Mati (Isih Akeh Wong Jujur neng Ngisor Wit Jambu Air) menawarkan nada yang lebih optimistis. Mas Ganang—mantan gali, seorang intelektual sekaligus pemimpin informal kampung—kembali menemukan kekasihnya setelah puluhan tahun terpisah dan menggagas pembangunan kampung bersama warga dengan bertumpu pada warisan serta kekuatan komunitas.
Ketiga lakon tersebut membentuk potret khas kampung Yogya dan Indonesia masa kini: masyarakat yang menghadapi modernitas, perpecahan, kemiskinan, penggusuran, relasi kuasa, dan ketidakpastian, tetapi tetap menyimpan kehangatan, humor, kebebasan, cinta, serta daya tahan untuk terus hidup.
Mak, Ana Asu Mlebu Ngomah! bukan hanya kumpulan naskah untuk dipentaskan. Buku ini juga menjadi rekaman bahasa, karakter, kegelisahan, dan “sejarah kecil” masyarakat kampung—sebuah dunia yang sering berada begitu dekat dengan kita, tetapi luput dari perhatian.
Pada Oktober 2017, Buku ini mendapat penghargaan sebagai KARYA SASTRA JAWA TERBAIK dalam penghargaan sastra oleh Balai Bahasa Yogyakarta.






















