Deskripsi
“Maharani Shima” adalah novel fiksi sejarah epik yang mengisahkan perjalanan hidup Ratu Shima, penguasa wanita legendaris dari Kerajaan Kalingga pada abad ke-7 Masehi. Buku ini merupakan bagian ketiga dari serial “Jejak Tanah Leluhur” karya Wibowo Wibidharma, melanjutkan kisah dari buku pertama (Janabadra) dan buku kedua (Putri Kalingga).
Kisah berfokus pada masa ketika Putri Kalingga telah diangkat menjadi permaisuri. Shima berperan aktif membantu raja mengurus kerajaan hingga akhirnya ia diserahi tahta kekuasaan sebagai ratu, menggantikan Raja Kartikeyansingha yang memutuskan untuk menjadi petapa. Sebagai seorang penguasa, Shima tidak menyia-nyiakan kesempatan—kekuasaannya digunakan untuk tiga tujuan utama: mempertahankan kedudukan, menata kehidupan yang lebih baik, dan melampiaskan dendam lamanya.
Dua hal utama yang dilakukannya adalah membangun kekuatan dan menciptakan keteraturan. Baginya, kehidupan yang lebih baik hanya bisa diciptakan dalam keadaan teratur, dan keteraturan hanya dapat dibangun oleh aturan. Hukum harus ditegakkan dengan tegas, tanpa pandang bulu. Dalam perjalanan kekuasaannya, Maharani Shima diberi berbagai julukan—Dewi Keadilan, Dewi Pelindung Padukuhan, Dewi Sumbi, dan Ratu Perdamaian. Ia adalah sosok yang berkuasa lama, kedudukannya kuat, dikagumi, disegani, ditakuti, sekaligus dibenci dan dikutuk.
Novel ini menghadirkan kekayaan budaya Nusantara kuno, pergulatan politik istana, pertarungan sengit, dendam yang membara, hingga kisah cinta dan pengorbanan. Lebih dari itu, Maharani Shima adalah cerminan dari nilai-nilai kepemimpinan, keadilan, dan ketegasan seorang pemimpin yang visioner.


![Maharani Shima 2 Maharani Shima [PDF]](https://penerbitgarudhawaca.com/wp-content/uploads/2023/09/Mockup-Ebook-Maharani-Shima.png)



















