Deskripsi
La Femme lan Lelakone: Curah Kisah Perempuan, dari Soal Pernikahan sampai Kedaulatan
Buku ini adalah kumpulan kisah personal dari sepuluh perempuan Indonesia yang dengan berani membagikan pengalaman hidup mereka—mulai dari pertanyaan tentang pernikahan, perjalanan menjadi orang tua, hingga perjuangan merebut kembali kedaulatan diri. Ditulis dengan jujur dan mengalir, setiap cerita dalam buku ini adalah refleksi atas konstruksi sosial yang selama ini membatasi gerak-gerik perempuan.
Dari pengakuan Ani Rufaida tentang perjalanannya mempertanyakan makna pernikahan, hingga kisah Fitria Dyah Anggraeni yang menceritakan keberaniannya keluar dari pernikahan yang penuh kekerasan; dari perjuangan Rina Febi Pratiwi menghadapi pertanyaan “kapan hamil” selama bertahun-tahun, hingga refleksi Renee Sari Wulan sebagai orang tua tunggal dari anak autistik—buku ini menghadirkan beragam perspektif yang jarang terdengar.
Dengan pengantar dari Gita Savitri Devi, buku ini mengajak pembaca untuk menyelami realitas yang sering kali disembunyikan di balik tirai dapur: ketidakadilan gender dalam pembagian pekerjaan rumah tangga, tekanan sosial untuk menikah dan memiliki anak, kekerasan dalam relasi intim, stigma terhadap janda dan single mom, hingga perjuangan perempuan untuk tetap eksis di ruang publik.
Tiga bagian utama dalam buku ini:
-
Pernikahan dan Pertanyaan Tentangnya — mengupas konstruksi sosial seputar pernikahan, dongeng-dongeng masa kecil yang membentuk gender, pembagian pekerjaan rumah tangga, dan negosiasi dalam relasi.
-
Menjadi Orang Tua — menyoroti perjalanan menghadapi pertanyaan “kapan hamil”, keputusan besar dalam mengasuh anak, dan dinamika menjadi ibu.
-
Merebut Kembali Kedaulatan Diri — cerita tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak sehat, stigma menjadi janda, dan perjuangan perempuan untuk mencintai diri sendiri.
Buku ini adalah bacaan yang menguatkan bagi siapa pun—perempuan maupun laki-laki—yang ingin memahami lebih dalam tentang relasi, kesetaraan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah tekanan sosial. Seperti yang ditulis Gita Savitri Devi dalam pengantarnya: “Cerita kolektif tujuh perempuan hebat di buku ini menjadi pengingatku bahwa hidup menjadi seorang perempuan butuh perjuangan ekstra. Namun kisah-kisah mereka menyadarkan aku bahwa perempuan lain juga mengalami hal serupa. Perjuangan ini tidak aku jalani sendiri.”






















