Deskripsi
Sulukan Wayang Purwa Cengkok Mangkunegaran: Notasi dan Cakepan adalah buku referensi penting bagi dalang, calon dalang, pengrawit, peneliti seni tradisi, mahasiswa pedalangan, serta pemerhati wayang kulit Jawa yang ingin mempelajari sulukan gaya Mangkunegaran secara lebih terarah.
Buku ini menghimpun notasi dan cakepan sulukan wayang purwa cengkok Mangkunegaran, salah satu corak pakeliran yang memiliki karakter khas dalam tradisi pedalangan Jawa. Sulukan merupakan vokal dalang yang berperan penting dalam membangun suasana adegan pakeliran, baik suasana agung, sedih, romantis, tegang, galau, maupun penuh greget.
Dalam tradisi wayang, sulukan bukan sekadar lagu yang dilantunkan dalang. Sulukan adalah unsur penting yang menghidupkan adegan, membangun rasa dramatik, memperkuat suasana batin tokoh, serta menunjukkan kualitas suara, penguasaan rasa, dan teknik vokal seorang dalang. Karena itu, penguasaan sulukan menjadi bagian penting dalam pembelajaran seni pedalangan.
Buku ini memuat pembahasan tentang pakeliran cengkok Mangkunegaran, sejarah pengembangan pedalangan di lingkungan Pura Mangkunegaran, peran KGPAA Mangkunegara IV, KGPAA Mangkunegara VII, KGPAA Mangkunegara VIII, Ki Ng. Wignyo Soetarno, PDMN, serta tradisi pembelajaran pedalangan Mangkunegaran. Di dalamnya juga dijelaskan bahwa pedalangan gaya Mangkunegaran memiliki ciri khas pada garap lakon, sulukan, dhodhogan, gending, dan cak pakeliran.
Bagian utama buku ini menyajikan notasi sulukan yang dibagi dalam tiga bagian besar: Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Pembaca dapat menemukan berbagai jenis sulukan seperti Pathet Nem Ageng, Ada-Ada Girisa, Pathet Nem Jugag, Sendhon Pananggalan, Sendhon Kloloran, Ada-Ada Hastakuswala, Ada-Ada Budhal Mataraman, Pathet Kedhu, Pathet Lindur, Pathet Lasem, Greget Saut Nem, Pathet Sanga Wantah, Sendhon Tlutur, Sendhon Rencasih, Ada-Ada Astakuswala Sanga, Pathet Manyura, dan berbagai sulukan lainnya.
Keunggulan buku ini terletak pada penyajian notasi kepatihan dan cakepan yang memudahkan pembaca mempelajari alur lagu, laras, dan teks sulukan. Penyunting juga menjelaskan bahwa penyusunan ulang buku ini dilakukan sebagai upaya memperbaiki sistem penulisan notasi sesuai standar penulisan notasi kepatihan, tanpa mengubah alur lagu dari sumber aslinya.
Buku ini juga memuat Bagan Titi Laras Slendro, yang membantu pembaca memahami hubungan antara notasi kepatihan dan istilah nada tradisional seperti barang, jangga, dhadha, lima, nem, barang alit, dan manis. Dengan demikian, buku ini tidak hanya berguna sebagai arsip, tetapi juga sebagai bahan belajar praktis bagi siswa pedalangan.
Sulukan Wayang Purwa Cengkok Mangkunegaran sangat cocok untuk dalang, siswa pedalangan, mahasiswa seni karawitan, mahasiswa pedalangan, guru seni budaya, akademisi, pengrawit, komunitas wayang, sanggar seni, perpustakaan seni, serta siapa saja yang ingin mempelajari dan melestarikan pakeliran gaya Mangkunegaran.
Buku ini penting dimiliki karena menjadi bagian dari upaya pendokumentasian tradisi lisan pedalangan agar dapat dipelajari, diwariskan, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.






















