Deskripsi
Kisah cinta Panji Asmåråbangûn dan Dèwi Galûh Cåndrå Kirånå telah hidup selama berabad-abad dalam ingatan masyarakat Jawa. Namun, perjalanan cinta keduanya tidak berlangsung sederhana. Janji perjodohan, kecemburuan, pengkhianatan, penyamaran, sihir, dan pengembaraan membuat mereka harus menempuh jalan panjang sebelum dapat menemukan kembali tresnå sejati.
Dèwi Galûh Cåndrå Kirånå, putri Kerajaan Panjalu yang telah dipertunangkan dengan Radèn Panji Inu Kertåpati, harus menghadapi kebencian Dèwi Galûh Ajeng. Karena iri dan ingin merebut Panji, Galûh Ajeng menggunakan tipu daya hingga Cåndrå Kirånå tersingkir dari istana dan mengalami serangkaian perubahan nasib.
Perjalanan itu membawanya menjadi Kéyông Emas yang ditemukan oleh Mbôk Rejå di tepi Bengawan Brantas. Setelah kembali ke wujud manusia, ia menjalani kehidupan sebagai Rårå Sekar, lalu mengabdi di rumah Mbôk Råndhå Kawulusan dan dikenal sebagai Kletíng Kuníng.
Sementara itu, Panji Inu Kertåpati juga meninggalkan kemegahan istana. Dalam pengembaraannya, ia menggunakan nama Andhé-Andhé Lumût dan tinggal bersama Mbôk Råndhå Dhadhapan. Pertemuan keduanya semakin dekat ketika tersiar kabar bahwa Andhé-Andhé Lumût sedang mencari pendamping hidup.
Untuk mencapainya, Kletíng Kuníng harus menyeberangi Bengawan Brantas dan berhadapan dengan Yuyu Kangkang. Berbekal keberanian, keteguhan hati, dan sebatang sådå lanang, ia menolak direndahkan serta menunjukkan bahwa martabat tidak boleh dipertukarkan demi mencapai tujuan.
Tresnå Sejati Kletíng Kuníng tidak hanya menghadirkan kembali kisah Kletíng Kuníng dan Andhé-Andhé Lumût. Novel ini merangkai berbagai kisah yang dikenal dalam tradisi Jawa—Panji Asmåråbangûn, Cåndrå Kirånå, Kéyông Emas, Rårå Anggraèni, dan Enthít—menjadi sebuah perjalanan cinta yang lebih panjang dan utuh.
Ditulis dalam bahasa Jawa aksara Latin dengan tanda diakritik, novel ini membantu pembaca mengenali pengucapan vokal bahasa Jawa secara lebih tepat. Narasi menggunakan bahasa ngoko alus, sedangkan dialog disesuaikan dengan hubungan, kedudukan, dan situasi para tokohnya. Pada bagian akhir juga tersedia kosa tembung untuk membantu memahami kata-kata Jawa yang sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Sebuah bacaan tentang kesetiaan, keberanian, harga diri, pengorbanan, serta cinta yang terus mencari jalan untuk kembali kepada takdirnya.

![Tresna Sejati Kleting Kuning [Segera Terbit] 1 Tresna Sejati Kleting Kuning [Segera Terbit]](https://penerbitgarudhawaca.com/wp-content/uploads/2026/07/Cover-Kleting-Kuning.jpg)
















