Deskripsi
Godhong Suruh Temu Rose adalah buku kumpulan cerkak (cerita cekak) berbahasa Jawa karya Sugito HS yang menghadirkan cerita-cerita pendek tentang kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang segar, ringan, akrab, dan mudah dinikmati.
Sebagian besar cerkak dalam buku ini pernah dimuat di Harian Jogja pada tahun 2008. Hal ini membuat cerita-ceritanya terasa ringkas, padat, komunikatif, dan dekat dengan pembaca. Cerkak-cerkak di dalamnya tidak berangkat dari tema yang terlalu jauh atau mengawang-awang, tetapi dari perkara-perkara hidup yang sangat dekat: keluarga, percintaan, pekerjaan, perantauan, rasa malu, kekecewaan, kemiskinan, harapan, pernikahan, hubungan orang tua dan anak, sampai kegelisahan kecil yang sering muncul dalam kehidupan orang Jawa sehari-hari.
Melalui cerita seperti Simbah Ora Sabar, Getir, Abang-Ireng, Geger Karangkadhempel, Tuku Sega Imbuh Tresna, Godhong Suruh Temu Rose, Pasa ing Paran, Tukang Becak lan Koruptor, Degan Ijo, hingga Ngarepake Matangpuluh Dina, pembaca diajak memasuki dunia tokoh-tokoh yang sederhana tetapi hidup. Ada pemuda yang terus ditanya kapan menikah oleh simbahnya, keluarga yang retak karena prasangka, anak muda yang salah paham, kisah cinta yang tumbuh dari perkara sehari-hari, sampai sindiran sosial terhadap korupsi dan kehidupan masyarakat.
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menangkap denyut kehidupan orang biasa. Cerita-ceritanya tidak berlebihan, tetapi memiliki rasa: kadang lucu, getir, satir, romantis, menyentuh, dan penuh pengamatan sosial. Bahasa Jawa yang digunakan terasa hidup karena dekat dengan percakapan sehari-hari, sehingga cocok dibaca oleh pembaca yang ingin menikmati sastra Jawa modern tanpa merasa berjarak.
Godhong Suruh Temu Rose cocok untuk pecinta sastra Jawa, guru bahasa Jawa, siswa, mahasiswa, peneliti sastra daerah, komunitas literasi, perpustakaan sekolah, serta pembaca umum yang ingin menikmati cerkak Jawa modern yang ringan tetapi tetap bermakna.
Buku ini bukan hanya kumpulan cerita pendek. Ia juga menjadi bagian dari upaya memperkaya khazanah sastra Jawa modern dan menjaga agar bahasa Jawa tetap hidup sebagai bahasa cerita, bahasa perasaan, bahasa humor, dan bahasa untuk membaca kehidupan.






















