Sejarah ISBN Barcode

JIka Anda membeli sebuah buku, umumnya di sampul belakang akan ditemukan sebuah barcode, yaitu sandi kode yang tersusun dari nomor-nomor yang juga tertulis dibawahnya. Nomor itu disebut nomor ISBN, yaitu kependekan dari International Standard Book Number.  Nomor ini juga (harusnya) tercantum dihalaman verso, atau halaman yang memuat data teknis dan identitas buku yang biasanya ada di halaman kedua, setelah halaman judul.

Sejarah Barcode.

Barcode yang ada di sampul belakang itu berfungsi sebagai sandi untuk membaca data yang terwakili oleh nomor ISBN nya itu. Barcode ada bermacam-macam, namun yang akrab dan sering ditemukan adalah barcode terdiri dari variasi garis tebal dan tipis. Barcode juga ada di kemasan berbagai produk industri.

Barcode ini lahir pada tahun 1948, oleh dua orang sahabat Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland. Ada beberapa versi sejarah mengenai lahirnya barcode dari dua orang ini. Versi pertama adalah konon, Suatu hari Bernard Silver berbelanja di sebuah toko ritel besar, lalu mendengar tanpa sengaja bos ritel mengeluh mengenai rumitnya pengkodean barang secara manual. Ia berandai-andai ada suatu cara ajaib yang bisa mengetahui harga barang dengan cepat ketika orang hendak membayar.  Mendengar keluhan ini, Bernard segera menghubungi Woodland dan mereka mulai berpetualang mencari sistem kode yang efektif.

Sementara versi kedua adalah, toko ritel makanan di Philadelphia secara resmi meminta Drexel Institute of Technology untuk membantu mereka membuat kode barang yang efisien, lalu Silver dan Woodland bergabung di proyek itu. Namun yang jelas, hingga tahun 1948, tim itu belum mendapatkan sistem yang efisien. Hingga kemudian Silver menemukan ide dari sandi morse. Sandi morse jika ditulis terdiri dari titik dan garis, lalu Silver menarik titik dan garis itu secara vertikal, maka jadilan varian garis tipis dan garis tebal, nah itulah kode batang. Tahun 1949, Mereka mendapat hak patent atas kode batang itu. Namun, kode itu masih butuh mesin untuk membacanya, dan mesin itu baru benar-benar jadi pada tahun 1952.
Selanjutnya barcode dipakai oleh kalangan industri dimulai tahun 1970 oleh Logicon Inc. Dan terus menerus dikembangkan. Banyak juga lembaga ilmu pengetahuan atau perusahaan swasta yang membuat sistem kode-kode semacam itu. Sampai kini, warisan barcode dari Silver dan Woodland masih dipakai, sementara mulai ada code yang lebih kompleks yaitu QR COde, yang berupa bujur sangkar dengan gambar matrix abstrak seperti kode pada akun Blackbery Messenger. QR Code awalnya dibuat dan digunakan oleh Toyota Corporation untuk menandai kode sparepart mobil. Jika barcode bisa dimaksimalkan untuk memuat sekitar 20 item informasi, QR Code konon mampu menyimpan 125 item informasi.

 

Sejarah ISBN

Nah, dari Amerika dan Jepang kita beralih ke Eropa, tepatnya di Inggris. Pada tahun 1965, ketika di Indonesia ada ketegangan dengan PKI, di inggris, sebuah toko buku besar bernama HW Smith sedang pusing. Mereka berencana pindah ke gudang dan ingin mengkomputerisasi data buku-buku dagangannya. Lalu, HW Smith menyewa tim konsultan dari The British Publisher Association’s Distribution and Methode Commite dan para ahli lain dari dunia perbukuan Inggris. Tim ini merancang suatu sistem penomoran untuk memberi kode identitas buku pada 1966. Setahun kemudian, setelah berjibaku dengan aritmatika moduler, tim yang dimotori oleh David Whittaker ini berhasil menyusun kode pengenal buku dan mulai dipakai di HW Smith serta diperkenalkan juga untuk dipakai oleh ritel buku dan penerbit di Inggris. Kode nomor ini disebut Standard Book Numbering (SBN).

Ketika SBN mulai dipakai di Ingris Raya, sebuh lembaga lain dalam waktu hampir bersamaan tertarik untuk menerobos kemungkinan adopsi SBN bagi kalangan international. Dia adalah International Standardization Organization (ISO), yang pada 1968 yang menyelenggarakan suatu pertemuan international di London untuk membahas hal itu. Dihadiri oleh anggota-anggota dari berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat, tim ini melanjutkan pertemuan pada 1969 di Berlin. Tim ini menyempurnakan kode SBN. Hasilnya adalah pada tahun 1970, ISO resmi mengumumkan suatu sistem standar baru dengan nomor ISO 2108, yaitu berlakuknya suatu sistem penomoran buku yang disebut International Standard Book Number (ISBN).

Kini, ISBN dipakai di 150 negara termasuk Indonesia. Penggunaan dan pengawasan ISBN dikontrol oleh International ISBN Agency berkantor di London. Di tingkat masing-masing negara juga ada “agen” yang berhak mengeluarkan, mencatat dan mengawasi penggunaan ISBN. Untuk Indonesia, tugas ini ditangani oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Kode nomor ISBN ini juga dikawinkan dengan sistem barcode untuk memudahkan pembacaan kode menggunakan alat pemindai (scanner). Kini, ISBN terdiri dari 13 digit, sedang buku-buku yang terbit sebelum 2008 masih menggunakan ISBN 10 digit. Dalam 13 digit itu terdapat kode negara penerbit, kode nomor prefix penerbit, kode nomor urut judul di tingkat penerbit dan satu check digit di angka terakhir. Oh ya, David Whitaker, sang perumus kode SBN itu akhirnya dinobatkan sebagai Bapak ISBN Dunia.

 

penerbit garudhawaca

Penerbit Buku Online dan percetakan