Bahasa Jawa Tidak Mati

Beberapa tahun sudah, sering terdengar dalam pembicaraan atau muncul dalam tulisan di berbagai media informasi dan media sosial yang berbunyi “Bahasa Jawa Telah Mati”, atau “Bahasa Jawa Merana”, atau “Senjakala Bahasa Jawa” atau “Bahasa Jawa Ditinggalkan” dan sejenisnya. Umumnya pembicara atau penulis seperti itu membincangkan keprihatinan akan pemakaian bahasa Jawa yang kian berkurang, atau penggunaan bahasa Jawa yang salah atau tidak murni lagi. Benarkah demikian?

Banyak pendapat miring tentang Bahasa Jawa ini disimpulkan dari fenomena kota Yogyakarta. Sebagai sebuah wilayah yang masih melestarikan artefak dan warisan tradisi Kerajaan Jawa, Yogyakarta dianggap dan dituntut menjadi pusat peradaban Jawa, termasuk tentu saja Bahasa. Lalu dianggap bahwa Yogyakarta mestinya menggunakan bahasa Jawa secara total. Nah, ini tentu tidak sesederhana itu. Yogyakarta, selain pusat budaya Jawa, juga adalah kota pelajar dengan puluhan perguruan tinggi yang menampung pelajar/mahasiswa dari seluruh wilayah Nusantara. Maka wajar jika di kota ini Bahasa Indonesia tetap dominan, karena itu adalah bahasa persatuan yang menjamin berjalannya komunikasi antar masyarakat yang berasal dari berbagai daerah itu. Jadi, jika mahasiswa asli Jawa tengah berada di Yogyakarta dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, itu dalam rangka menjalani diri sebagai warga Indonesia dan menjaring kemungkinan sedang berkomunikasi dengan orang selain Jawa.

Jadi tidak tepat jika disebut bahasa Jawa “Ditinggalkan”. Mengapa, sebab kenyataannya, di wilayah dimana sebaran masyarakat suku Jawa berada, baik itu di Pulau Jawa maupun di luar pulau, selalu masih ditemukan orang-orang Jawa yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Jika yang dimasalahkan adalah tata bahasa atau “grammar” yang dianggap salah, ini tentu wajar sebagai dinamika peradaban. Yang jelas, jika dua orang atau lebih bisa berkomunikasi dan saling paham apa yang dimaksud oleh lawan bicara, maka bahasanya pasti benar. Sebab bahasa adalah media komunikasi. Kalau bahasanya salah pastilah komunikasi tidak berjalan bukan? Kenyataannya orang-orang yang berbahasa campur-campur juga masih bisa dipahami maksudnya. Itu berarti fungsi dasar bahasa masih berjalan.

BACA JUGA  Buku Digital dan Upaya Ramah Lingkungan

Saat ini, jika dikatakan bahasa Jawa itu mati, namun justru sedang dalam proses berkembang. Hal-hal berikut bisa kita jadikan contoh.

Bahasa Jawa di luar percakapan.

Di luar penggunaan percakapan, Saat ini Bahasa Jawa justru telah berkembang menjadi bentuk-bentuk ekspresi lain yang sangat baik untuk mempromosikan bahasa Jawa itu sendiri ke ranah publik di luar masyarakat budaya Jawa. Sebut saja adanya lagu-lagu berbahasa Jawa dalam irama Hip Hop (rap), Dangdut dan folk musik. Jenis karya ini memiliki penggemar yang luas dan melintas batas wilayah serta latar budaya. Lagu-lagu dangdut karya Didi Kempot dan musisi dangdut lainnya yang berbahasa Jawa bahkan kini tengah menggejala di kalangan muda.

Berikutnya adalah film. Sudah banyak film-film yang diproduksi dengan dialog berhasa Jawa. Sebut saja film Kucumbu Tubuh Indahku; Siti; Turah, dan banyak pula film-film pendek berbahasa Jawa yang malang melintang di berbagai festival film.

Contoh lainnya adalah merchandise. Di Yogyakarta, ada beberapa produk oleh-oleh khas berupa kaos yang memiliki desain bernuansa Jawa baik dari sisi simbol maupun kata-kata berbahasa Jawa. Sebut saja ada Dagadu, Mbejo dengan beberapa lini produk yang semua menggunakan ikon dan bahasa Jawa, juga berbagai buku yang terbit dalam bahasa Jawa.

Di media sosial, tak sepi dari akun-akun berbahasa Jawa. Bahkan ada beberapa pemuda yang menggunakan media sosial sebagai media gerakan berbahasa Jawa seperti akun “@Jawasastra” yang menggunakan bahasa Jawa Arekan atau Bahasa Jawa a la Surabaya. Jawasastra juga menerbitkan zine atau buletin eksklusif dan berbagai kegiatan mempromosikan bahasa arekan. Ia menunjukkan bahwa bahasa Jawa Arekan, adalah juga bahasa Jawa, produk peradaban Jawa, meski ia tidak sama dengan bahasa Jawa versi Yogya maupun Solo. Keragaman ini juga seringkali luput dari perhatian para pengeluh. Jadi jangan dianggap bahasa Jawa itu hanya seperti bahasa dalam kitab-kitab lawas atau dalam monolog MC pernikahan adat Jawa. Bahasa Jawa juga punya banyak varian misalnya Banyumasan, Pesisiran, Arekan dan lainnya.

BACA JUGA  Mak Ana Asu Mlebu Ngomah, Karya Sastra Jawa Terbaik

Buku Berbahasa Jawa.

Meski banyak orang “sok tahu” yan mengeluhkan Bahasa Jawa sebagai bahasa yang mati, namun beberapa contoh di atas justru menunjukkan bahwa bahasa Jawa tetap hidup bahkan berkembang. Banyak pula buku-buku yang terbit dalam bahasa Jawa, baik itu penerbitan ulang kitab/serat kuno maupun karya sastra baru berbahasa Jawa. Salah satu penerbit adalah Penerbit Garudhawaca, yang sekarang Anda sedang membaca websitenya ini. Garudhawaca juga menjalin kerja bersama penulis-penulis berbahasa Jawa untuk terus memproduksi karya buku dalam bahasa Jawa. Dan Kami melakukan ini karena kami cinta dan bangga dengan bahasa Jawa, tanpa tendensi belas kasihan atau niatan menjadi pahlawan. Kami meproduksi buku berbahasa Jawa bukan karena takut  bahasa Jawa akan mati, bukan karena takut bahasa Jawa akan dicaplok Inggris dan Amerika, tapi karena kami sedang suka melakukannya dan karena bahasa Jawa adalah salah satu bahasa yang kami kenal sejak bayi sehingga menggunakannya adalah suatu ekspresi alamiah kami. Itu saja.

Namun demikian, memang buku-buku bahasa Jawa sangat jarang ditemui di toko-toko buku. Barangkali itu sebabnya banyak orang menilai bahasa Jawa tengah ditinggalkan. Ini karena toko-toko buku memilih dagangan berdasarkan tingkat kelarisannya. Buku berbahasa Jawa memang sepi pembeli, ini tentu banyak faktornya, bukan sekedar masyarakat mulai meninggalkan. Bisa jadi bukunya yang memang kurang menggugah, temanya yang tidak menarik dan sebagainya. Namun yang jelas, meski di toko buku sepi, buku berbahasa Jawa masih terus lahir di tangan penulis dan penerbit indie seperti kami. Rajin-rajinlah browsing internet. Bahkan Garudhawaca juga menerbitkan buku berbahasa Jawanya melalui platform ebook di Google Play yang bisa diakses dari seluruh belahan dunia. Jadi, Saya sampaikan sekali lagi ya, tenang… Bahasa Jawa masih hidup dan ceria.

BACA JUGA  Berapa Biaya Menerbitkan Buku Indie?

Jika berkenan, silakan cek terbitan buku berbahasa Jawa kami. Atau Anda mau menambah judul baru bersama kami? Cek prosedurnya di : http://penerbitgarudhawaca.com/cara-menerbitkan-buku/

 

Didik Adi Sukmoko

Semacam PemRed di Garudhawaca.

penerbit garudhawaca

Penerbit Buku Online dan percetakan

%d blogger menyukai ini: